Rabu, 02 Mei 2012

Menemukan Jati Diri


Menemukan Jati Diri

Teman-teman, banyak dari diri kita yang merasa belum
menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Banyak pula
yang masih ngotot mengejar untuk menemukan jati
dirinya. Banyak juga yang sudah merasa diri mapan,
tapi anehnya merasa kosong dan hampa dalam dirinya.
Banyak lagi yang tidak mengerti, cuek, pasrah akan apa
kata orang tentang dirinya, bagaimana dirinya harus
bersikap, berusaha terus menyenangkan orang lain, dan
lain sebagainya. Maka dari itu saya pun penasaran
dengan tema pencarian jati diri ini. Saya pun masih
merasa berubah-ubah. Atau? apakah nanti ada suatu
?rasa? diri yang benar-benar merupakan ?jati? dari
diri kita? Atau memang kita tidak terbuat dari ?jati??
Mari kita setidaknya meniti kembali bersama-sama suatu
pencarian, suatu kemapanan (?) yang disebut sebagai
JATI DIRI ini.

Selalu kita terperangah ketika sudah saatnya tangan
kehidupan kembali menelusup zona kenyamanan kita.
Mengganti karir pekerjaan, mendefinisikan kembali
hubungan kita dengan orang yang kita cintai, memutar
arah menuju kawasan yang benar-benar tidak kita
ketahui, dan segala hal lain yang sanggup menohok kita
kembali ke dasar pemikiran. Kembali ke dasar perasaan.
Kembali bertanya-tanya. Tantangannya selalu sama.
Memperkuat benteng pertahanan tentang konsep diri kita
yang telah kita bangun dengan susah payah, atau
merubuhkannya sekali lagi. Namun sering kali kita
mudah tertipu oleh kehidupan. Kita sesungguhnya telah
berubah sekaligus terluka, bukan menjadi apa yang kita
inginkan, melainkan apa yang EFISIEN menurut
kehidupan. Drama bikinan manusia di kehidupan ini
boleh memiliki skenario yang itu-itu saja. Namun diri
kita hampir tanpa kita sadari telah mengikuti
efisiensi kehidupan. Kehidupan yang apa adanya.
Kehidupan alami.

Sewaktu-waktu dalam sesaat kita pasti pernah
bertanya-tanya, apa yang terjadi padaku selanjutnya?
Bisakah aku terus memiliki pola kehidupanku seperti
saat ini? Bisakah aku bertahan? Bagaimana kalau aku
tidak mampu? Apakah aku telah menjadi pecundang dalam
hidup ini? Pertanyaan sesaat ini selalu
mengendap-ngendap. Menemani dengan setianya.
Pertanyaan ini berdiam ketika diri kita sedang
bahagia, dan bergejolak ketika diri kita sedang
goyah-goyahnya. Pertanyaan sesungguhnya yang ingin
selalu kita ungkapkan adalah, apakah kehidupanku masih
akan selalu bisa terkontrol? Petualangan macam apa
yang bakal menantiku selanjutnya? Tantangan seperti
apakah? Apakah aku masih perlu belajar untuk secara
menyakitkan (?) mengubah jati diriku? Seturut orang
lainkah? Seturut tangan Tuhan/alam/kehidupa n yang tak
terlihatkah?

Pertanyaan tinggallah pertanyaan. Namun kita tetap
akan nanar melihat masa depan yang masih ada yang
belum terbentuk. Bahkan ada yang belum terpikirkan.
Bagi yang berusia lanjut, kehidupan (?) setelah
kematianlah yang merupakan masa depan yang belum
terbentuk. Bagi yang masih berusia muda, puluhan tahun
ke depan masihlah merupakan masa depan yang
samar-samar, jika tidak mau dikatakan sebagai tak
berbentuk.

Seringkali aku terbesit rasa kagum melihat orang-orang
yang sudah cukup lanjut usianya (atau yang berusia
jauh di atasku). Aku kagum juga melihat ibuku sendiri.
Mereka telah menjalani kehidupan yang paling tidak dua
kali lipat lebih lama daripada diriku. Entah berapa
kali pada akhirnya jati diri mereka harus disesuaikan
kembali (mungkin sekali sudah pernah bongkar pasang
kembali). Membuat aku berpikir. Apakah jati diri
merupakan kumpulan pengalaman yang mengerak yang
kemudian memperkuat persepsi tentang dirinya?

Sebuah getaran yang terasa menetap. Sebuah ayunan
emosi yang tak bisa lagi terlalu berayun seperti dulu.
Sebuah kebosanan yang telah dipancangkan untuk bisa
memahami penderitaan hidup. Sealunan ayunan suara
merdu yang selalu membawa ke masa lalu. Itukah jati
diri? Ataukah, sebungkah harapan akan impian yang tak
muluk-muluk amat. Sebuah ambisi yang menyehatkan
badan. Suatu nasihat yang menetap untuk menerjang
tantangan hidup. Setapak langkah yang diiringi senyum
pasti dan kesiapan hati untuk kembali teriris. Dan
seonggok sinar semangat yang masih tersisa untuk
bangkit kembali?

Rasa takut yang tergetarkan oleh rasa cinta akan
kehidupan, membuat orang-orang terus bergerak bagaikan
lebah meneteskan madu-madu hikmat. Sepengamatan saya,
jati diri terus akan bergetar. Terus juga akan oleng,
kemudian balik kembali. Seolah-olah terbuat dari kapal
yang tak akan pernah tenggelam. Tapi ini adalah
asumsi?.Kapal yang tak pernah tenggelam adalah sebuah
khayalan. Nyatanya kita pernah tenggelam. Setidaknya
sekali.

Ketika kita tenggelam. Ketika kita menemui perasaan
kita yang paling sentimentil. Ketika kita sudah merasa
paling dasar, namun ternyata masih terus meluncur ke
bawah. Ketika ledakan tangis dan tawa menjadi satu
memudarkan dan membongkar topeng-topeng peran/diri
kita. Ketika itulah kita dapat merasakan kembali
pelukan dari alam. Yang hangat. Dari bumi yang selalu
setia mendengarkan keluh-kesah kita. Kita kembali
mencium tanah tempat kita berasal. Merasakan degup
jantung yang detakannya seirama dengan denyut tanah.
Denyut bumi. Kita merasa terlindungi. Mendapatkan
tempat untuk bersandar. Merebahkan diri. Bahkan
merelakan jati diri kita, apapun itu?apapun.

Kenikmatan berpelukan dengan bumi menjadi suatu
kejelasan kesadaran. Suatu penglihatan. Suatu MOMEN.
Saat terindah yang bukan picisan. Saat terdiam. Saat
tersuci. Saat kita dicuci hati kita, menuju kehangatan
kasih yang tak terkira. Rasa takut telah bersekutu
dengan rasa cinta, walaupun rapuh, kita mulai
bergerak. NAMUN, di sinilah titik kritisnya. Simpul
yang akan membawa kepada pilihan. Menuju ke simpul
mati kah? Atau simpul yang terus bergerak tak
menjuntrung?

Lagi-lagi kita dihadapkan pada pilihan. Hidup adalah
pilihan. Benar? Salahkah? Hidup adalah spontanitas?
Saat kita jatuh adalah saat kita menjelas. Saat itu
terasa tiada pilihan. Hanya ada gerakan. Tidak begitu
spontan, masih memilih tapi jelas tidak hanya berhenti
pada kesadaran pada pilihan. Bahkan kesadaran akan
adanya pilihan tak perlu ada. Kita memilih titik.
Kemudian jalan.

Itu saat kita jatuh. Lalu kehidupan bagi kita
berangsur-angsur berjalan normal kembali. Pelan-pelan
kita mulai mencari-cari posisi kenormalan diri kita.
Tentu kita tidak mau terus berkubang dalam
persentimentilan (perasaan sentimentil) . Oleh karena
itulah kita mulai memasang titik referensi dimana saat
kita masih merasa normal sebelum kita jatuh. Nah, kita
kemudian akan berusaha terus ke arah titik referensi
tersebut -- yang bisa berupa kenangan saat kita
santai, rileks menghadapi tantangan, atau pada saat
ambisius, dlsb, yang tentu bisa dijadikan titik
perasaan normal, bila dibandingkan dengan perasaan
saat jatuh, yaitu depresi, sedih berkepanjangan,
uring-uringan, gampang marah, dlsb -- .

Normal ? bangun ? mengejar mimpi ? terjatuh ? bangkit
? mencari titik normal ? merasa normal ? bangun lagi ?
mengejar mimpi -- dst. Ini adalah sebuah siklus alami
kehidupan manusia di bumi ini. Dan pencarian jati diri
kita terletak pada posisi siklus ? mencari titik
normal -- . Tentu tidak harus seperti siklus di atas.
Namun perlu disadari terkadang yang kita cari sebagai
jati diri sebenarnya adalah rasa kenormalan diri kita.
Normal mengindikasikan rasa terbiasa pada diri kita.
Hal apa yang membuat diri kita terasa paling nyaman?
Bisa dikatakan, hal-hal tersebutlah yang merupakan
kulit dari konsep-konsep kita mengenai jati diri kita.
Tentu saja, kalau kita hanya mendefiniskan jati diri
kita terhadap hal-hal materi di luar diri kita, maka
kita akan mendapatkan konsep-konsep jati diri kita
yang terlihat kaku, yang dapat membuat kita merasa
bertanya-tanya karena mungkin kita akan cepat bosan
dengan pengkaitan atau pelabel-labelannya. Tentu kita
tidak akan pernah rela didefinisikan seperti sebuah
konsep mati. Tentu kita selalu berusaha agar jangan
sampai diri kita mudah ditebak. Namun anehnya, kita
menginginkan diri kita mudah ditebak/diperkiraka n oleh
kita sendiri. Kita ingin terbiasa dengan diri kita
yang kemudian hanya merupakan taktik kita belaka
supaya bisa TERBIASA dengan kehidupan.

?Apa agama anda? Islam. Terus agama anda yang satu
lagi? Katolik. Lho kok bisa punya dua agama?? Kita
mulai protes kepada orang ini yang mengaku mengimani
dua agama sekaligus. Tentu terasa aneh kalau ada orang
yang mengaku mengimani lebih dari satu agama. Namun
mulai terasa lain halnya kalau pertanyaannya diubah
sedikit. ?Apakah jati diri anda? Islam. Islam?
Benarkah jati diri anda Islam?? Kita akan mulai ragu.
Dalam hati kecil kita tetap terasa diri kita tak akan
rela didefinisikan bahkan dengan label agama
sekalipun. ?Oh anda Islam garis keras toh?!? Apalagi
pernyataan ini, pada umumnya kita akan segera marah?!

Oleh karena itulah hampir semua orang tidak suka bila
dirinya dihakimi, dinilai, distereotipkan,
digeneralisirkan atau
disamaratakan/ dikelompok- kelompokkan. ?Aku ya aku?,
itulah motto diri kita semua. Kita selalu merasa diri
kita unik. Tidak ada duanya. Tanpa kita sadari, sesuai
dengan sifat kehidupan yang memang berubah-ubah,
kitapun sebenarnya tidak ingin konsep diri kita
menetap selamanya. Hanya saja, tetap saja ada yang
terasa aneh. Kita tetap sering terasa belum menemukan
jati diri kita sesungguhnya. Kita selalu merasa
seluruh potensi kita akibatnya belum tergarap dengan
optimal karena belum menemukan jati diri yang
sesungguhnya. Dengan kata lain, mungkin sebenarnya
kita telah menunggu godot hanya untuk mengantarkan
kita pada tanda tanya lain mengenai jati diri kita.
Umur kita bakalan keburu habis hanya untuk memburu
jati diri. Layakkah?

Lagi-lagi pertanyaan bukan? Lalu bisa dihentikankah
pertanyaan-pertanya an sejenis seperti ini? Bisakah
kita hanya kemudian mengklaim saja, jati diri tak usah
capek-capek ditemukan, toh sesungguhnya tak perlu
dicari, hanya perlu menghayati kehidupan ini??
Menghayati kehidupan. Hanya berjalan. Langkahkan
kakimu. Rengkuh seluruh ayunan perasaanmu. Raih
pendewasaanmu secepatnya. Jangan tunda apapun, jika
memang penundaan terasa seperti kesia-siaan. Dan
jangan berjalan buta jika diam adalah langkah yang
paling efektif dan efisien. Lalu selamat datang
ketidakpastian. VOID.

Ketika rencana pudar menjadi langkah yang melebar
kesana-kemari. Ketika hidup tidak mengenal kata
ketidakefisienan. Ketika jati diri hanya terasa
(terasa?.*tenggg) seperti dengung lebah yang
menghangat di hati. Dan ketika pikiran tidak bisa
diajak berlogika. Emosi bahkan tidak bisa diajak
bersentimentil ria. Nyerah? Pasrah? Bukan?. Bukan
menyerahkan kontrol diri kita. Hanya merengkuh
kembali. Segalanya yang sudah ada di dalam diri kita
yang juga tercakup segala yang di luar diri kita.
Bahkan, jati diri pun tidak bisa diikat dengan kata
label, ?dalam diri?. Jati diri (jikapun merupakan
konsep), ada di dalam diri sekaligus di luar diri
(tentu ini masih dalam tataran konsep). Jika kita mau
keluar dari tataran konsep (sesungguhnya masih konsep
juga)?., jati diri adalah sesuatu yang kita
perkenankan masuk dan kita perkenankan keluar (dengan
?sesuatu? bisa apa saja, tidak dikonsepkan secara
kaku). Semakin lancar aliran ?sesuatu? yang masuk dan
keluar dalam diri kita, semakin berdesinglah diri kita
seturut denyut kehidupan di bumi ini. Semakin mandeg
aliran tersebut, semakin banyak pula makna yang kita
dapatkan untuk kemudian menjadi harta kenangan setelah
dilepaskan (setelah berdesing kembali). Jadi, lancar
maupun mandeg sekali lagi merupakan siklus alami dari
berdesing (mengalami), kemudian memaknai pengalaman
tersebut sesuai dengan keinginan kita sebagai manusia,
yaitu pemaknaan kehidupan di bumi.

Bisa disimpulkan, yang merupakan ?jati? pada diri kita
adalah fungsi pemaknaan dari kehidupan diri kita.
Fungsi pemaknaan bukanlah makna itu sendiri. Itulah
mengapa wajar sekali kita selalu (seperti ada
siklusnya) merasa bisa kehilangan jati diri. Kita
mencari makna dari dalam diri kita (karena kita
mengira menemukan jati diri samadengan menemukan
pemaknaan hidup kita). Padahal makna diciptakan dari
dalam diri kita, bukan ditemukan! Tentu ini bukanlah
saran supaya kita mempunyai jati diri yang lentur
sekali. Tentu bukan itu. Jati diri yang terasa terlalu
lentur bahkan bisa kehilangan sebagian besar daya
fungsi pemaknaannya. Buat apa terlalu mengalir bersama
kehidupan jikalau nanti cuma terasa kehidupan berjalan
terlalu cepat bagi diri kita. Namun tidak perlu pula
ngotot berdiam diri untuk terus mengunyah makna-makna
yang sudah terlalu usang dan menjadi lengket sehingga
malah kehilangan kesempatan berharga untuk mendapatkan
kekayaan pemaknaan yang sangat beranekaragam yang
ditawarkan oleh kehidupan ini. Lebih baik kita
tertatih-tatih belajar berjalan bersama denyut langkah
kehidupan ini, sambil mendapatkan momen-makna yang
dapat membuat jiwa-jiwa kita berekspresi riang.

Jadi? selamat mengumpulkan momen-makna anda. Sadari
anda memiliki ?jati? diri anda, sehingga anda dapat
belajar menggunakannya. Tak perlu berusaha menemukan
jati diri anda. Anda akan tahu sendiri mana yang
terasa sebagai jati diri anda, karena ?jati? selalu
melambangkan kualitas anda sebagai manusia (karena
menjadi manusia adalah hal yang paling berharga di
kehidupan ini). Jadi, jika anda sudah mengetahui
betapa tak ternilainya anda sebagai manusia (dan
memang hampir seluruh manusia di bumi ini memandang
dirinya sangat tinggi), tentu anda sudah mengetahui
itu merupakan ?jati? diri anda bukan?

Karunia Ilahi Dalam kehidupan Rumah Tangga




Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa,  singkat dia berujar
"Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...

Menikah itu sangat indah, kata Almarhum ayah saya dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu
jelas, alur ibadah suami dan istri. Beliau mengibaratkan ketika seseorang baru menikah dunia menjadi terang benderang, saat itu  kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja disantap lezat. Mendung di langit bukan masalah besar. Seolah dunia milik mereka saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai, sejarah keluarga baru saja disusun.

Namun sayang tambahnya, semua itu lambat laun menguap ke angkasa membumbung atau raib ditelan dalamnya bumi. Entahlah saat itu cinta mereka berpendar ke
mana. Seiring detik yang berloncatan, seolah cinta  mereka juga. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ke tujuan, tak  terhitung pasangan yang terburai kehilangan pegangan, selanjutnya perahu mereka karam sebelum sempat berlabuh di tepian.

Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah. Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah bertubi yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati. Lanjutnya kemudian.

Saya jadi ingat, saat itu seorang istri memarahi suaminya habis-habisan, saya yang berada di sana merasa iba melihat sang suami yang terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, peluh masih membasah,  kesegaran pada saat pergi sama sekali tidak nampak, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat.  Saya kira akan terjadi "perang" hingga bermaksud mengajak anak-anak main di belakang. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan sun sayang penuh mesra di kening sang istri. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu suaranya bertutur "Maafkan Mama ya Pa..". Gegas ia raih tangan suami dan mendekatkannya  juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Jauh setelah kejadian itu, saya bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. "Saya mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena saya mencintainya" demikian jawabannya.

Ibn Qayyim Al-Jauziah seorang ulama besar, menyebutkan bahwa cinta mempunyai tanda-tanda. Pertama, ketika mereka saling mencintai maka sekali saja mereka
tidak akan pernah saling mengkhianati, Mereka akan saling setia senantiasa, memberikan semua komitmen mereka. Kedua,  ketika seseorang mencintai, maka
dia akan mengutamakan yang dicintainya, seorang istri akan mengutamakan suami dalam keluarga, dan seorang suami tentu saja akan mengutamakan istri dalam hal perlindungan dan nafkahnya. Mereka akan sama-sama saling mengutamakan, tidak ada yang merasa superior. Ketiga, ketika mereka saling mencintai maka sedetikpun mereka  tidak akan mau berpisah, lubuk hatinya selalu saling terpaut. Meskipun secara fisik berjauhan, hati mereka seolah selalu tersambung.

Ada do'a istrinya agar suami selamat dalam perjalanan dan memperoleh sukses dalam pekerjaan. Ada tengadah jemari istri kepada Allahi supaya suami selalu dalam perlindunganNya, tidak tergelincir. Juga ada ingatan suami yang sedang membanting tulang meraup nafkah halal kepada  istri tercinta, sedang apakah
gerangan Istrinya, lebih semangatlah ia.

Saudaraku, ketika segala sesuatunya berjalan begitu rumit dalam sebuah rumah tangga, saat-saat cinta tidak lagi menggunung dan menghilang seiring persoalan yang datang silih berganti. Perkenankan saya mengingatkan lagi sebuah hadist nabi. Ada baiknya para istri dan suami menyelami bulir-bulir nasehat berharga dari Nabi Muhammad.

Salah satu wasiat Rasulullah yang diucapkannya pada saat-saat terakhir kehidupannya dalam peristiwa haji wada': "Barang siapa -  diantara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari istrinya, maka  Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub  atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa -diantara para  istri- bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiah, istri fir'aun" (HR Nasa-iy dan Ibnu Majah).

Kepada saudaraku yang baru saja menggenapkan setengah dien, Tak ada salahnya juga untuk saudaraku yang sudah lama mencicipi asam garamnya pernikahan,
Patrikan firman Allah dalam ingatan :  "...Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami) dan kalian adalah  pakaian bagi mereka..."
(QS. Al-Baqarah:187)

Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya merengkuh telapak tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar- Rafi' dari Abu Sa'id Alkhudzri r.a)

Kepada sahabat yang baru saja membingkai sebuah keluarga, Kepada para pasutri yang usia rumah tangganya tidak lagi seumur jagung, Ingatlah ketika suami mengharapkan istri berperilaku seperti Khadijah  istri Nabi, maka suami juga harus meniru perlakukan Nabi Muhammad kepada  para Istrinya. Begitu juga sebaliknya. Perempuan yang paling mempesona  adalah istri yang shalehah, istri yang ketika suami memandangnya pasti  menyejukkan mata, ketika suaminya menuntunnya kepada kebaikan maka dengan sepenuh hati dia akan mentaatinya, jua tatkala suami pergi maka dia akan amanah menjaga harta dan kehormatannya. Istri yang tidak silau dengan gemerlap dunia melainkan istri yang selalu bergegas merengkuh setiap  kemilau ridha suami.

Lelaki yang berpredikat lelaki terbaik adalah suami yang memuliakan istrinya. Suami yang selalu dan selalu mengukirkan  senyuman di wajah istrinya. Suami yang menjadi qawwam istrinya. Suami yang  begitu tangguh mencarikan nafkah halal untuk keluarga. Suami yang tak lelah berlemah lembut mengingatkan kesalahan istrinya. Suami yang menjadi  seorang nahkoda kapal keluarga, mengarungi samudera agar selamat menuju  tepian hakiki "Surga". Dia memegang teguh firman Allah, "Wahai  orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS.  At-Tahrim: 6)

Akhirnya, semuanya mudah-mudah tetap berjalan dengan semestinya. Semua berlaku sama seperti permulaan. Tidak kurang, tidak juga  berlebihan. Meski
riak-riak gelombang mengombang-ambing perahu yang sedang  dikayuh, atau karang begitu gigih berdiri menghalangi biduk untuk sampai ketepian. Karakter suami istri demikian, Insya Allah dapat  melaluinya dengan hasil baik. Sehingga setiap butir hari yang bergulir akan tetap  indah, fajar di ufuk selalu saja tampak merekah.

Keduanya menghiasi masa dengan kesyukuran, keduanya berbahtera dengan bekal cinta. Sama seperti syair yang digaungkan Gibran, Bangun di fajar subuh
dengan hati seringan awan

Mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan Istirahat di terik siang merenungkan puncak getaran cinta Pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada Kemudian terlena dengan doa bagi yang  tercinta dalam sanubari Dan sebuah nyanyian kesyukuran tersungging di bibir senyuman Semoga Allah selalu menghimpunkan kalian (yang saling  mencintai karena Allah dalam ikatan halal pernikahan) dalam kebaikan.

Mudah-mudahan Allah yang maha lembut melimpahkan kepada kalian bening saripati cinta, cinta yang menghangati nafas keluarga,  cinta yang menyelamatkan. Semoga Allah memampukan kalian membingkai  keluarga sakinah, mawaddah, warrahmah. Semoga Allah mematrikan helai keikhlasan di setiap gerak dalam keluarga. Jua Allah yang maha menetapkan, mengekalkan ikatan pernikahan tidak hanya di dunia yang serba fana tapi  sampai ke sana, the real world "Akhirat". Mudah- mudahan kalian selamat mendayung sampai ketepian. Allahumma Aamiin.

Barakallahu, untuk para pengantin muda. Mudah-mudahan saya mampu mengikuti tapak kalian yang begitu berani mengambil sebuah keputusan  besar, yang
begitu nyata menandakan ketaqwaan kepada Allah serta  ketaatan kepada sunnah Rasul Pilihan. Mudah-mudahan jika giliran saya tiba, tak  perlu lagi saya
bertanya mengapa teman saya menjadi begitu murah senyum. Karena mungkin saya sudah mampu menemukan jawabannya sendiri.

KATAK


SANG  KATAK


Pada suatu ketika,sekelompok katak bergerak melintasi hutan. Dua diantara katak tersebut jatuh ke dalam sebuah lubang. Dan,semua katak lainnya lalu mengelilingi lubang tersebut. Saat melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berseru kepada kedua katak tersebut bahwa mereka lebih baik mati.

          Kedua katak tersebut tidak mempedulikan komentar2 itu dan mencoba melompat keluar dari lubang dengan segala kemampuan yang ada. Tetapi, katak2 lainnya berseru agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

          Akhirnya, salah satu dari katak yang ada di dalam lubang tersebut mendengar seruan katak2 lain dan menyerah. Ia terjatuh dan mati, Sedangkan katak yang satunya lagi tetap mencoba sedapat mungkin melompat keluar. Sekali lagi, katak2 tersebut berteriak kepadanya agar berhenti berusaha dan lebih baik mati saja. Tetapi, dia bahkan berusaha lebih keras dan akhrnya berhasil.

          Ketika sampai di atas, ada seekor katak bertanya , “Apakah kau tidak mendengar teriakan kami? “Lalu, katak itu (dengan membaca gerakan bibiir katak yang lain) menjelaskan bahwa ia tuli. Akhirnya, mereka sadar bahwa saat berada di bawah tadi mereka dianggp memberikan semangat kepada katak tuli tersebut.

Renungan :

+ Perkataan dapat membangkitkan semangat atau justru mematikan seseorang.
+ Kata-kata buruk yang diberikan kepada seseorang yang sedang “jatuh” dapat membunuhnya.
+ Semua orang dapat mengeluarkan “kata-kata kehidupan” untuk membuat seseorang yang tidak   dikenal sekalipun bangkit dari kejatuhannya.
+ Hal terindah bagi kita adalah apabila kita dapat menggunakan waktu kita untuk mengucapkan        “kata-kata kehidupan” kepada siapapun.

Doa Yang Ku panjatkan



=================================
Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis
"Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh.
Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku."

Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah
"Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah,
agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati
dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir
"Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka
di sekolah Islami yang baik meskipun mahal,
beri aku rizki untuk itu ya Allah...."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah
"Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral
Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja
"Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang
mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya,
karena
dia ibarat buah yang sedang ranum."

Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa
"Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka,
yang
bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah "Ya Allah jangan kau
putuskan
tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut
kehilangan
dia karena dia akan ikut suaminya."

Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan
"Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat.
Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin
memanjangkan
teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya
cucuku."

Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan
berkata......

"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh
sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?

Engkau ingin suamimu jadi imam,
akankah engkau jadi makmum yang baik?"

"Engkau ingin anak yang sholehah,
sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.

Jangan egois begitu......
masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu....
tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku,
karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku."

"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam,
karena apa?...... prestige? ...... atau....
engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar,
Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya."

"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya
dengan
mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup
aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan
umat-Ku."

"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al
Quran-Ku.

Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik
maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan."

"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.

Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku,
bahkan ketika dia melupakan-Ku.

Aku tetap mencintainya."
"Anakmu adalah amanahmu,
cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan
untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya."

Lantas...... aku malu...... dengan imajinasiku sendiri....
aku malu......
aku malu akan tuntutanku.......

Maafkan aku ya Allah......